Tentang dia. Dia yang udah beberapa lama ini nemenin gue.
Yaaa walaupun seperti semu, tapi dia ada. Meskipun namanya ga bisa gue
sebut, tapi dia ada.
Dia itu terlalu sulit dijelaskan. Sosoknya manis, seperti
kebanyakan mantan gue (lah?), sikapnya santun dan lembut. Tapi ada 1
yang buat gue ga bisa jauh dari dia, pemikiran dia ini hebat banget. Dia
bisa ngimbangin gue yang meledak-ledak, apa yang dia pikirin itu out of
the box abis, dan entah kenapa gue selalu bisa nurut sama dia.
Kadang gue suka curhat sama dia tentang masalah gue.
Keliatannya sih ga didengerin, dianya sambil main games lah, sambil baca
buku lah, tapi begitu gue tanya pendapatnya, dengan cepat dia bisa
ngutarain apa yang dia pikirin tentang hal itu. Dan anehnya, semua yang
dia omongin itu terkadang diluar kapasitas orang lain.
Kaya gue pernah nanya sama dia begini :
"Kenapa ya, kadang aku ngerasa semua tanggungjawab ini ngebuat aku semakin kerdil?"
Dan jawaban dia :
"Kerdil? Emang kenapa juga kamu harus jadi kerdil?
Tanggungjawab kamu itu harusnya menjadikan kamu raksasa. Dg smakin
banyak tanggungjawab, semakin banyak juga yang nantinya bakal kamu
dapet. Kerdil mana yang dapet sebegitu banyak tanggungjawab? Cum raksasa
yang akan dapet sebegitu banyak tanggung jawab. Snow White and The
Huntsman kamu nonton kan? Yang nolongin si Kristen pas di hutan, siapa?
Raksasa. Yang jagain dia pas tiba-tiba dikejar? Raksasa. Emang sih, ada
bagian kurcaci perang demi si Kristen, tapi itu si kurcaci sebagai
'bawahan'. Kalo si raksasa, dia pure sebagai orang yang memang ngejaga."
Dan gue terbengong-bengong ngedenger penjelasan dia. Sabodo
amat sama itu film, gue ga mau mendebat. Tapi yaaa, pemikirannya itu
loh.
Atau gue pernah nanya sama dia begini :
"Hidup kamu itu, buat apa sih?"
Jawaban dia :
"Hidup aku? Ya buat diri aku sendiri. Aku ga akan sok baik
dengan bilang hidup aku ini buat orangtua aku, ataupun buat kamu. Hidup
aku ya buat aku. Aku yang atur. Aku yang milih. Mau bahagia, aku yang
buat. Mau sedih, aku yang buat. Selesai. Kenapa? Karena kalau aku bilang
hidup aku ini buat orang lain, nantinya aku jadi ga nikmatin setiap
hal, sekalipun hal kecil yang terjadi dalam hidup aku, dan akhirnya aku
akan merasa terbebani dan nantinya jadi pamrih. Lagian kalo aku ga bisa
bahagia dalam hidup aku, ngapain sok-sokan bahagiain orang lain? Kamu
mau emang hidup dalam kepura-puraan?"
Beda banget sama gue emang, tapi alasan dia itu masih bisa
gue terima. Dan kata-kata yang dia keluarin itu, seperti nasihat tanpa
menggurui buat gue.
Banyak banget kalimat dia yang memprovokasiin hal baru buat
gue. Dia itu temen ngobrol yang seru, karena sama dia, banyak banget
hal yang bisa keluar dari zona aman dan zona normal. Gue pernah juga
nanya sama dia masalah perbedaan keyakinan secara universal. Dan dia
bilang :
"Sedih kalo ngomongin itu. Karena di Indonesia ini kaum
minoritas suka didiskriminasi. Ya kalo aku sih selama ga mengganggu
secara personally, aku ga akan masalah. Tapi secara umum, ini ganggu
banget. Ada lah tempat yang nerima pegawai hanya dari kaum mayoritas,
ada lah kaum minoritas yang berbuat salah dikit merembetnya kemana-mana
dibuat sama mayoritas, ada lah yang seenaknya ngejudge kaum minoritas.
Tapi, di dunia ini pun, kaum minoritas emang selalu digituin kan? Ya
jalanin aja. Toh Tuhan ga pernah ninggalin kaum minoritas kok. Ya
sebenernya aku bingung, Tuhan itu kan 1. Cara kita menyebut Tuhan yang
berbeda. Cara kita berbicara dengan-Nya yang berbeda. Kenapa perbedaan
bisa berakibat sebesar ini ya?"
Atau tentang pendapat dia masalah gay/lesbi/biseksual :
"Kamu ini banyak tanya. Dan terlalu banyak ikut campur.
Biarin aja mereka kaya gitu, mereka kan manusia juga. Kamu pikir mereka
ga tersiksa kaya gitu? Berenti berpikir kaum mayoritas itu paling bener.
Mereka itu juga tersiksa tau, cuma ya gimana, namanya hidup mereka, ya
mereka yang milih mau apa. Dan mau bagaimana. Kalo kamu mau menjudge
mereka, mending kamu jadi Tuhan aja gih. Sanggup?"
Dan ada lagi satu pertanyaan gue ke dia, tentang 'kita' , yang jawabannya rada gimana gitu. Gue pernah bilang gini :
"Aku suka bosen sama keadaan kaya gini. Kadang kepikiran
buat berenti aja di tengah jalan. Toh diujung juga ga akan bisa satu
kan?"
Dan jawaban dia :
"Kamu udah ga bahagia sama pilihan kamu? Ya tinggalin.
Berhentiin ini sesuai sama kemauan kamu. Cuma kalo aku, kamu boleh
bilang aku berpikiran pendek, tapi kalo aku lebih memilih jalan sama
kamu sekarang ini, paling engga untuk bahagianya aku sekarang. Kalo
sekarang aku ada kesempatan untuk bisa bahagia, kenapa harus aku
lewatin? Masalah nantinya akan selesai dan bikin sedih, ya itu resiko.
Emang kamu pikir ada kebahagiaan yang gratis? Semua hal di dunia ini
penuh resiko. Sekarang tinggal kamunya aja. Mau ambil resiko untuk
setitik kebahagiaan, atau kamu lebih milih ga ambil resiko dan berharap
kebahagiaan lain yang lebih besar akan dateng ke kamu, tanpa resiko.
Kalo kamu milih yang kedua, ya silakan aja kamu tunggu. Sampe kamu tua,
kamu ga akan bahagia pasti. Karena kebahagiaan itu, sekecil apapun,
memiliki nilai yang harus dibayar."
Gue debat dia :
"Kebahagiaan itu kan sederhana. Dengan bersyukur kita juga bisa bahagia."
Dia ketawain gue dan jawab :
"Iya. Dengan bersyukur kita juga bisa bahagia. Tapi emang
untuk bersyukur itu ga ada perjuangan dan resikonya? Bersyukur itu kan
juga perlu belajar, ada prosesnya. Dan apa selama proses itu kamu ga
tersiksa?"
Gue masih debat dia :
"Mana ada bersyukur bikin tersiksa."
Dan gue diketawain lagi :
"Kamu itu ngeyel. Terlalu banyak penolakan dalam diri kamu.
Aku ga bilang bersyukur bikin tersiksa, aku bilang, selama proses kamu
untuk bener-bener bisa bersyukur itu kamu ga tersiksa? Itu pertanyaan
buat kamu. Dan kalo pertanyaan itu dikasih ke aku sih jawaban aku pasti
selama proses itu aku tersiksa. Gimana engga, bersyukur itu tingkatan
sikap hidup yang tinggi, dan cobaannya juga banyak banget. Selama proses
kita sampe kata itu, pasti banyak yang bikin kita semakin jatuh dan
jauh dari kata itu. Dan saat kita dibikin jatuh dan jauh dari kata itu,
emang bisa gitu kita ga ngerasa tersiksa? Contohnya aja kamu, ikut tes
di-xxxx (namanya disensor), eh kamu cuma lolos tahap 1, tahap 2nya
kalah. Bersyukur gampang ga? Susah kan? Ada prosesnya. Dan selama proses
kamu coba buat bersyukur, emang ga nyakitin kamu? Tapi nanti, saat kamu
udah bisa bersyukur, kamu akan bahagia banget. Dan berarti apa? Bahkan
bersyukur pun perlu 'pembayaran' yang disebut resiko."
Gue sempet bengong, tapi karena gue ga mau kalah, gue alihin ke masalah awal dengan bilang :
"Jadi intinya apa tentang 'bosan' aku sekarang?"
Dia cuek aja main games sambil ngomong :
"Ya kalo kamu ga mau ambil resiko sakit hati karena
ujungnya akan pisah, silakan berhentiin. Tapi kalo aku sih, selama masih
bahagia, sebesar apapun resikonya, pasti akan aku hadapi."
Gue diem. Dia ngelanjutin :
"Sekarang kamu diem aja, penolakan di diri kamu tuh besar
banget kan? Pasti kamu bete, atau marah, atau keduanya. Tapi aku yakin,
kamu pasti akan mikirin kata-kata aku ke kamu tadi. Bukan tentang
kitanya, tentang kebahagiaan dan resikonya. Bukan aku ga percaya Tuhan,
tapi hidup ini, kita yang jalanin dan memilih. Tuhan cuma menuntun dan
memberi rambu batasan."
Iya, kaya gitu kata-kata dia. Dan setiap detail
kata-katanya yang gue coba sanggah, selalu berujung sama pemikiran 'oh
iya dia bener juga'.
Sayangnya, gue ga bisa terlalu banyak dan terus-terusan
ngobrol sama dia. Karena banyak hal yang harus sama-sama kita kerjain.
Tapi, setiap saat gue sama dia, selalu ada topik pembicaraan dan
perdebatan dan pembelajaran baru yang gue rasain.
And that's why....I smile. It's been a while. Since
everyday and everything has felt this right. And now, you turn it
around. And suddenly you're all I need. The reason why I-I-I I smi-i-le
:)
Malah nyanyi deh hahaha.
Pokonya adalah, gue suka banget sama pemikiran dia.
Keliatan cerdas dan dia, menghargai hidupnya sendiri. Dan gue harus
belajar hal itu dari dia. Karena gue terkadang (sering banget malah) ,
ga bisa menghargai diri gue dan hidup gue sendiri.